Kamis, 08 Maret 2012

Doa Munajah Seorang Hamba kepada Khalik Yang Maha Rahman

اللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِنُوْرِ قُدْسِكَ وَ عَظَمَةِ طَهَارَتِكَ وَ بَرَكَةِ جَلاَلِكَ مِنْ كُلِّ عَافَةٍ وَ عَاهَةٍ وَ مِنْ طَوَارِقِ اللَّيْلِ وَ النَّهَارِ إِلاَّ طَارِقًا يَطْرُقَ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَانُ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan cahaya kesucian-Mu dan keagungan-Mu dari segala kebencian dan gangguan serta dari segala kejahatan yang datang baik di waktu malam maupun di waktu siang, kecuali yang datang dengan kebaikan wahai Yang Maha Pengasih.

أَنْتَ غِيَاثِي فَبِكَ أَغُوْثُ وَ أَنْتَ مَلاَذِي فَبِكَ أَلـُـوْذُ وَ أَنـْتَ عِيَاذِي فَبِكَ أَعُوْذُ

Engkau Maha Penolong, maka kepada-Mu lah aku memohon pertolongan, Engkau tempat berlindung, maka kepada-Mu lah aku berlindung, Engkau lah yang menemani, maka dengan Mu lah aku berteman.

يَا مَنْ ذَلـَّتْ لَهُ رِقَابُ الْجَبَابِرَةِ وَ خَضَعَتْ لَهُ أَعْنَاقُ الفَرَاعِنَةِ، أَعُوْذُبِكَ مِنْ خِزْيِكَ وَ كَشْفِ سَتْرِكَ وَ اْلإِنْصِرَافِ عَنْ شُكْرِكَ

Wahai Yang Maha Kuasa, yang telah menghinakan hamba yang sombong, dan yang telah menaklukkan hamba yang angkuh, aku berlindung kepada-Mu dari menghinakan-Mu, dan membuka-buka rahasia-Mu serta berpaling dari mensyukuri nikmat-Mu.

أَنَا فيِ حِرْزِكَ لَيْلَي وَ نَهَارِي وَ نَوْمِي وَ قَرَارِي وَ ظَعْنِي وَ أَشْفَارِي

Aku dalam tempat-Mu yang kokoh pada waktu malam-Ku, siang-Ku, pada waktu tidur-Ku, waktu diam-Ku, waktu pagi-Ku dan perjalanan-Ku.

ذِكْرُكَ شِعَاِري وَثَنَائِكَ دِثَارِي

Mengingat-Mu adalah pakaianku dan menyanjung-Mu adalah selimut-Ku.

لاَإِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، تَعْظِيْمًا لِوَجْهِكَ، وَ تَكْرِيْمًا لِسُبْحَانِكَ، أَجِرْنِى مِنْ خِزْيِكَ وَ مِنْ شَرِّ عِبَادِكَ، وَاضْرِبْ عَلَيَّ سُرَاِدقَاتِ حِفْظِكَ، وَ أَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فيِ حِفْظِ عِنَايَتِكَ، وَ عُدْليِ بِخَيْرٍ يَاأَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

Tiada Tuhan selain engkau, karena mengagungkan wajah-Mu dan memuliakan kesucian-Mu, jauhkanlah aku dari kehinaan dan menjadi hamba-Mu yang buruk. Berikanlah kepadaku naungan dan perlindungan-Mu, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu dalam lindungan-Mu, dan berikanlah kepadaku sebaik-baik kebaikan, wahai zat Yang Maha Pengasih lagi penyayang.

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ اِسْرَافَنَا فِى أَمْرِنَا وَ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَ انْصُرْنَا عَلَى القَوْمِ الكَافَرْيْن

“Ya Allah, Ampunilah dosa kami, ampunilah keteledoran kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum kafir”.

اللَّهُمَّ لاَ تُمْكِنُ الأَعْدَاءَ فِيْنَا وَلاَ تُسَلِّطْهُمْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ َيَخافُكَ وَلاَ يَرْحَمُنَا

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau beri kemungkinan musuh berkuasa terhadap kami janganlah Engkau berikan kemungkinan mereka memerintah kami, walaupun kami mempunyai dosa. Janganlah Engkau jadikan yang memerintah kami, orang yang tidak takut kepada-Mu, dan tidak mempunyai kasih sayang terhadap kami”.

اللهُمَّ أَهْلِكِ الكَفَرَةَ الَّذِي يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَ يَكْذِبُوْنَ رَسُلَكَ وَ يُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَائَكَ

“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah orang-orang yang selalu menutup jalan Engkau, yang tidak memberikan kebebasan kepada agama-Mu, dan mereka-mereka yang mendustakan Rasul-Rasul Engkau,dan mereka yang memerangi orang-orang yang Engkau kasihi”.

اللهُمَّ فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لا َتَرُوْدَهُ عَنِ القَوْمِ الُمجْرِمِْينَ

“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah kesatuan mereka, dan pecah belah barisan mereka. Turunkan kepada mereka ‘azab sengsara-Mu, yang selalu Engkau timpakan kepada golongan-golongan yang selalu berbuat dosa”.

اللهُمَّ أَعِزِّ الإِسْلاَمِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اخْذُلِ الكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِيْنَ

“Wahai Tuhan kami, berilah kemuliaan kepada Islam dan kaum Muslimin, rendahkanlah orang-orang yang kafir dan orang musyrik”.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ يَوْمَنَا خَيْرًا ِمنْ أَمْسِنَا، وَ اجْعَلْ غَدَنَا خَيْرًا ِمْن يَوْمِنَا، وَ احْسِنْ عَاقِبَتَنَا فيِ الأُمُوْرِ كُلِّهَا، وَ أَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَ عَذَابِ الآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ اْلعَفْوَ وَ العَافِيَةَ فيِ دِيْنِنَا وَ دُنْيَاناَ وَ أَهْلِيْنَا وَ أَمْوَالِنَا، رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

Rabu, 01 Februari 2012

Pesan Nabi Muhammad SAW sebelum Meninggal

Pesan Nabi Muhammad SAW sebelum Meninggal

Allah SWT telah berfirman : “Sesungguhnya aku telah melarang semua para Nabi masuk ke dalam surga sebelum engkau (Muhammad SAW) masuk terlebih dahulu, dan aku juga melarang semua umat memasuki surga sebelum umatmu memasuki terlebih dahulu.”

Merinding kita mengikuti firman Allah di atas. Sekaligus bersyukur dan bangga telah menjadi pengikut Nabi Muhammad. Betapa mulianya seorang Nabi yang selama ini kita selalu mengagungkan Beliau, Rasulullah SAW.

Betapa mulianya akhlak Kekasih Allah itu, Muhammad Rasulullah SAW. Betapa “luar biasanya” Nabi Muhammad SAW di kalangan malaikat, sahabat bahkan semua makhluk ciptaan Allah SAW. Terutama saat beliau akan meninggal.

Kisah Tangisan Abu Bakar dan Hari Wafatnya Rasulullah. Betapa mulia dan agungnya Beliau, bahkan malaikat Izrail pun mesti bertanya dulu, apakah ia boleh masuk rumah Rasul, tatkala Izrail diperintahkan Allah mencabut nyawa Rasulullah.

Kita beruntung dan bersyukur tiada tara (sambil berlinang air mata) menjadi salah satu pengikut Rasulullah. Moga makin bertambah cinta kita pada Rasulullah tiada putus-putusnya, hingga akhir hayat kita.

Allah SWT berfirman :

“…Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah engkau takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk engkau agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah 5:3)

Diriwayatkan bahwa surat Al-Maidah ayat 3 di atas, turun setelah waktu Ashar berselang, tepatnya pada hari Jumat di Padang Arafah saat musim haji penghabisan (haji wada).

Ketika itu Rasulullah SAW sedang berada di atas onta Padang Arafah.

Ketika ayat tersebut turun, Rasulullah kurang begitu mengerti apa isyarat yang berhubungan dengan turunnya ayat tersebut.

Lalu, Beliau bersandar pada ontanya, kemudian onta Beliau pun duduk secara perlahan-lahan.

Setelah itu turunlah Malaikat Jibril dan berkata :

“Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan demikian juga larangan-larangan-Nya. Oleh karena itu, kumpulkanlah para sahabatmu dan beritahu mereka, hari ini adalah terakhir aku bertemu denganmu.”

Kemudian Malaikat Jibril pergi,

Rasulullah SAW pun berangkat ke Mekah dan terus melanjutkan perjalanan ke Madinah.

Rasulullah mengumpulkan para sahabat dan menceritakan apa yang telah dikabarkan Malaikat Jibril kepada dirinya.

Mendengar hal ini, para sahabat pun gembira sambil berkata :

“Agama kita telah sempurna . Agama kita telah sempurna.”

Tetapi berbeda dengan Abu Bakar Ash-Shidiq, mendengar keterangan Rasulullah itu, ia tidak kuasa menahan kesedihannya dan langsung pulang ke rumah. Lalu mengunci pintu rapat-rapat dan menangis sekuat-kuatnya. Abu Bakar menangis dari pagi hingga malam.

اللَّهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتيِ فِيْهَا مَعَاشِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا آخِرَتِنَا الَّتيِ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَ اجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فيِ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ سَرٍ

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

وَ لَذِكْرُ اللهِ أَ ْكـبَرُ

MENGHARUNGI ARUS KESEJAGATAN

MENGHARUNGI ARUS KESEJAGATAN


oleh Masoed Abidin ZAbidin Jabbar



Derasnya arus kesejagatan (globalisasi) secara dinamik perlu dihadapi

dengan penyesuaian tindakan dan pemahaman

bahwa arus kesejagatan

tidak boleh mencabut generasi dari akar budayanya.

Arus kesejagatan (globalisasi) mesti dirancang

untuk dapat ditolak mana yang tidak sesuai,

dan dipakai mana yang baik.

Kita akan mendapatkan pelajaran

bahwa tidak boleh ada kelalaian dan berpangku tangan

di tengah mobilitas serba cepat, dan modern.

Persaingan tajam kompetitif tidak dapat dielakkan

dari laju informasi dan komunikasi efektif tanpa batas.

Sudahkah siap menghadapi perubahan cepat

penuh tantangan ini dengan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas,

lulusan perguruan tinggi yang berani menerapkan ilmu.

Juga dengan kekuatan budaya,

teguh (istiqamah) dalam mengamalkan agama,

maka terjangan globalisasi itu menjadi tidak amat sulit dihadapi.

Lebih utama kemampuan bersaing dalam tantangan sosial budaya,

ekonomi dan politik,

karena globalisasi mengait ke semua aspek kehidupan

dan salah satunya menguasai iptek atau ICT

yang hanya dapat disaingi dengan akhlak yang teguh.

Integrasi akhlak yang kuat tumbuh dari

pendalaman ajaran agama (tafaqquh fid-diin)

dan pengamalan nilai-nilai Islam yang universal (tafaqquh fin-naas)

dalam masalah sosial (umatisasi) kemasyarakatan,

mengedepankan kepentingan bersama dengan ukuran taqwa,

responsif dan kritis menatap perkembangan zaman,

menggeluti kehidupan duniawi bertaraf perbedaan,

kaya dimensi dalam pergaulan

rahmatan lil ‘alamin di seluruh nagari.

Ketahanan umat bangsa dan daerah

terletak pada kekuatan ruhaniyah

dengan iman taqwa dan siasah kebudayaan.

Intinya tauhid, yaitu pengamalan ajaran syarak (agama Islam).

Implementasinya akhlak,

yaitu menata kehidupan berperilaku baik

dengan adat istiadat luhur dalam lingkaran nagari.

Sebagai satu contoh Kabupaten Rejang Lebong, Prov. Bengkulu

telah berhasil membuat Perda tentang adat bersendi syarak

untuk daerahnya dan sudah mulai di terapkan pada tahun 2008 yang lalu.

Daerah Sumbar secara menyeluruh akan menjadi baik,

jika mampu mengembalikan nilai-nilai etika adat religi (ABS-SBK)

dalam bermasyarakat dengan

"memulai dari diri sendiri,

dan memberi contoh kepada masyarakat lainnya" (Al Hadist).

Inilah cara yang tepat sesuai bimbingan Allah SWT,

bahwa ... " apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa

dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi ... (QS.7,al-A’raf:96).

Perlu penguatan dalam penyebaran informasi dan komunikasi,

sesuai bimbingan Ilahi Rabbi.

Menuju Masjid Nabawi

Menuju Masjid Nabawi sebelum subuh datang pada jam 3 pagi, untuk shalat Tahajjud dan jika Allah mengizinkan ingin ke Raudhah

KETAHANAN UMAT DAN BANGSA UMUMNYA TERLETAK PADA KEKUATAN RUHANIYAH, KEYAKINAN AGAMA DENGAN IMAN TAQWA DAN SIASAH KEBUDAYAAN

KETAHANAN UMAT DAN BANGSA UMUMNYA TERLETAK PADA KEKUATAN RUHANIYAH, KEYAKINAN AGAMA DENGAN IMAN TAQWA DAN SIASAH KEBUDAYAAN

INTINYA ADALAH TAUHID. IMPLEMENTASINYA AKHLAQ.

Dapat dilakukan dengan program kembali ke surau.

Surau adalah suatu institusi yang khas dalam masyarakat Minangkabau.

Fungsinya bukan sekedar tempat sholat.

Juga sebagai tempat pendidikan dan tempat mendapat pengajaran bagi anak muda.

Banyak tokoh-tokoh besar di Minangkabau lahir dari surau.

Pengelolaan surau sekarang sapat dihidupkan kembali.

Esensi dan semangatnya lewat menggerakkan kebersamaan anak Nagari.

Du’at mesti tampil mengambil peran, karena ada gejala, adat tidak memberi pengaruh yang banyak terhadap generasi muda di Minangkabau. Dan, generasi tua, terlihat kurang pula memberikan suri teladan. Akibatnya, generasi muda jadi bersikap apatis terhadap adat itu sendiri.

Peran Du’at membentuk watak Generasi Sumatera Barat

“Indak nan merah pado kundi, indak nan bulek pado sago,

Indak nan indah pado budi, indak nan elok pado baso.

Anak ikan dimakan ikan, gadang di tabek anak tanggiri,

ameh bukan pangkaik pun bukan, budi sabuah nan diharagoi.

Dulang ameh baok balaie, batang bodi baok pananti,

utang ameh buliah bababie, utang budi dibaok mati.”

Ada enam unsur yang diperlukan untuk membentuk masyarakat yang mandiri dan berprestasi, melalui harakah dakwah, dalam pendidikan bernuansa surau ;

1. IMAN,

2. ILMU,

3. Kerukunan, Ukhuwah dan Interaksi,

4. Akhlaq, Moralitas sebagai Kekuatan Ruhiyah,

5. Badunsanak, sikap Gotong royong (Ta’awun),

6. Menjaga Lingkungan sebagai Social Capital, menerapkan Eko Teknologi.

Kegiatan kembali ke surau, mesti dijadikan upaya pendidikan dan pembinaan karakter anak nagari. Menghidupkan Dakwah sebagai pagar adat dan syarak, dalam menghadapi krisis identitas generasi muda, akibat perubahan dalam nilai – nilai adat.

Keberhasilan suatu upaya da'wah (gerak da'wah) memerlukan pengorganisasian (nidzam). Perangkat dalam organisasi selain dari orang-orang, adalah juga peralatan. Satu dari peralatan terpenting adalah penguasaan kondisi umat, tingkat sosial, dan budaya, yang dapat dibaca dalam peta da'wah.

Peta da'wah, bagaimanapun kecilnya, memuat data-data tentang keadaan umat yang akan diajak tersebut. Umat masa kini, akan menjadi baik dan kembali berjaya, bila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu dikembalikan. Bertindak atas dasar, mengajak orang lain untuk menganutnya, dan memulai dari diri sendiri, mencontohkannya kepada masyarakat lain, sebagai kekuatan dalam sistim pendidikan bernuansa surau.

MENGAJAK UMAT MEMPELAJARI DAN MENGAMALKAN ISLAM

Peran Du’at dan Suluah Bendang di nagari dan di tengah umatnya, adalah pengabdian mulia dan tugas berat. Keikhlasan membentuk umat jadi pintar, beriman, berakhlaq, berilmu, beramal baik, membina diri, kemashlahatan umat, dan keluarga, menjadi panutan dan ikutan, ibadahnya teratur, shaleh peribadi dan sosial, beraqidah tauhid yang shahih dan istiqamah.

Ajakan dakwah Islamiyah yang ditujukan kepada umat, tidak lain adalah seruan kepada Islam. Yaitu agama yang diberikan Khaliq untuk manusia, yang sangat sesuai dengan fithrah manusia itu. Islam adalah agama Risalah, yang ditugaskan kepada Rasul, dan penyebaran serta penyiarannya dilanjutkan oleh da'wah, untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia.

Upaya menyiapkan Generasi berprestasi, memanfaatkan surau ;

  1. Membudayakan Wahyu Al Quran dalam memakaikan adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah, melalui pelatihan kepada generasi muda Nagari.
  2. Memberikan penyegaran pada tokoh-tokoh dengan adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah dalam halaqah ba-surau.
  3. Mengevaluasi struktur kelembagaan surau dalam menggrakkan pemerintahan Nagari.
  4. Implementasinya di dalam masyarakat, kembalikan surau menjadi pusat pendidikan masyarakat formal (madrasah berbasis surau), ataupun informal (pengajian, majlis ta’lim) dan sejenisnya, menghidupkan dakwah membangun negeri.

Perintah untuk melaksanakan tugas-tugas da'wah itu, secara kontinyu diturunkan oleh Allah SWT, supaya menyeru ke jalan Allah, dengan petunjuk yang lurus (QS.Al-Ahzab, 33 : 45-46), dan tidak boleh musyrik, serta hanya meminta kepada-Nya dan persiapkan diri untuk kembali kepada-Nya (QS.Al Qashash, 28 : 87).

PELAKSANA DAKWAH ADALAH SETIAP MUSLIM

Setiap mukmin adalah umat da'wah pelanjut Risalah Rasulullah yakni Risalah Islam. Umat yang menjadi harapan masyarakat dunia, semestinya meniru watak-watak, yang ditunjukkan oleh penda'wah pertama, Rasulullah SAW.

Umat dan du’at mesti berupaya sekuat tenaga untuk meneladani pribadi Muhammad SAW, dalam membentuk effectif leader di Medan Da'wah, dalam mengamalkan inti dan isi Agama Islam, yakni akhlaq Islami, Aqidah tauhid yang shahih, kesalehan, dan keyakinan kepada hari akhirat.

“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab, 33 : 21).